Inilah Dampak Buruk Bermain Game Bagi Anak Yang Menjadi Kecanduan

Ada banyak penelitian tentang efek dari bermain game dan dampak buruk bermain game pada perkembangan anak-anak. Beberapa penelitian memang menunjukkan hasil yang positif tapi banyak juga menunjukkan hal negatif yang berdampak signifikan. Peneliti berpendapat bahwa jika anak sering bermain di konsol game portabel, laptop, tablet, atau smartphone, pada dasarnya akan memberikan dampak buruk bagi tumbuh kembang anak di kemudian hari.

 

Baca juga: 5 Aplikasi Desain dan Merancang Rumah Idaman

 

Dampak Buruk Bermain Game

Berikut ada beberapa dampak buruk yang bisa dialami anak apabila terlalu sering dalam bermain game:

 

Gangguan kesehatan

dampak buruk bermain game

Ternyata, jika kita terlalu sering dalam bermain game bisa menyebabkan datangnya berbagai penyakit kronis. Tanpa disadari, bermain game masuk ke dalam salah satu gaya hidup sedentari karena hal tersebut dapat membuat jadi malas untuk bergerak. Ketika bermain game, hanya mata dan tangan saja yang fokus bekerja. Sementara bagian tubuh lainnya diam tak bergerak.

Jika kebiasaan ini dilakukan terus-terus, maka dapat berisiko lebih tinggi untuk terkena penyakit obesitas, melemahnya otot dan persendiaan, bahkan dapat menurunnya penglihatan yang signifikan karena paparan radiasi cahaya dari layar gadget. Teralu sering bermain game juga berisiko mengalami lebih banyak masalah kesehatan, jika kebiasaan buruk ini disertai dengan pola makan yang tidak teratur, merokok serta minum alkohol.

Mungkin tidak akan disadari langsung risiko dari gaya hidup sedentari seperti ini. Biasanya, dampak dari kebiasaan buruk ini baru mulai disadari bertahun-tahun setelah terbiasa menjalani rutinitas tersebut.

 

Menurunnya prestasi akademik di sekolah

dampak buruk bermain game

Keseruan saat bermain game sangat jauh berbeda dengan hari-hari yang dilalui anak ketika belajar di sekolah maupun di rumah. Jika di sekolah pada umumnya anak-anak merasa bosan dan tertekan, lain halnya ketika mereka bermain game.

Apabila anak sudah dalam tahap kecanduan game, mereka akan melakukan segala cara untuk bisa bermain game. Akibatnya, banyak anak yang tidak fokus ketika menyerap pelajaran di kelas, malas belajar, hingga berani tidak masuk sekolah. Berbagai hal itu pasti berujung pada penurunan prestasi akademik anak di sekolah.

 

Menjadikan Asosial

dampak buruk bermain game

Anak yang sudah kecanduan bermain game cenderung lebih senang menghabiskan waktu selama berjam-jam untuk didepan layar gadget dengan game yang sedang asyik dimainkannya. Hal tersebut tentu akan berdampak buruk pada kehidupan sosial anak kelak. Karena, anak lebih memilih untuk berinteraksi secara digital daripada berinteraksi di dunia nyata. Dalam istilah psikologi kondisi ini disebut dengan asosial.

 

Baca juga: 5 Manfaat dan Hal Positif Bermain Game

 

Asosial adalah disfungsi kepribadian yang ditandai dengan menarik diri dan menghindar secara sukarela terhadap interaksi sosial apapun. Orang yang asosial cenderung tidak peduli terhadap orang lain dan sibuk dengan dunianya sendiri.

Biasanya, anak-anak yang asosial sering terdia, dan bingung ketika diminta untuk memulai percakapan dan merasa cepat bosan ketika diajak di pertemuan yang melibatkan banyak orang.

 

Menjadi agresif

dampak buruk bermain game

Konten kekerasan yang banyak ditampilkan dalam video game dapat menyebabkan anak-anak menjadi tidak sabaran dan berperilaku agresif dalam kehidupan sehari-hari. Mereka akan lebih sering marah-marah dan mudah tersinggung ketika dilarang atau diminta berhenti bermain game.

Hilangnya kendali diri ini membuat anak cenderung mengutamakan bermain game dalam hidupnya. Akibatnya, anak akan melakukan berbagai cara untuk dapat menyalurkan hasrat akan bermain game secara terus-menerus, dan tidak peduli dengan konsekuensi dan risiko yang ada. Termasuk berperilaku agresif ke orang tua, dan orang lain.

 

Baca juga: 3 Aplikasi Menggambar Terbaik di iPhone

 

Gangguan mental

dampak buruk bermain game

Kecanduan game ditandai dengan sudah tidak mampunya lagi anak untuk mengendalikan hasrat untuk memainkan game. Akibatnya, anak memiliki keinginan untuk terus-terusan bermain game.

World Health Organization (WHO) berencana memasukkan kecanduan game sebagai salah satu kategori gangguan jiwa baru yang disebut gaming disorder. Hal ini didasari atas fenomena meningkatnya kasus kecanduan game yang drastis dari berbagai belahan dunia.

Rencananya, gaming disorder diusulkan akan dimasukkan di bawah kategori besar “Gangguan mental, perilaku, dan perkembangan saraf”, khususnya di bawah subkategori “Gangguan penyalahgunaan zat atau perilaku adiktif.”

Hal ini berarti, para pakar kesehatan di seluruh dunia menyetujui bahwa kecanduan game dapat memiliki dampak yang serupa dengan kecanduan alkohol maupun obat-obatan terlarang.